Setiap orang yang lahir kedunia sudah membawa rejekinya masing-masing, ketika masih bayi dan kanak-kanak seseorang tidak perlu repot memikirkan rejeki, namun rejeki itu sudah tersedia bagi dirinya. Inilah bukti bahwa rejeki memang sudah ada yang mengatur-Nya. Ketika beranjak dewasa seseorang di syaratkan untuk mencari penghasilan sendiri, mencari rejekinya, dengan berbisnis atau dengan bekerja menjadi karyawan atau bekerja sebagai seorang professional dengan profesi tertentu yang ia jalankan seperti profesi guru, notaris, dokter, seniman dan lainnya.
Apabila seseorang tidak aktif mencari rejeki, ia hanya berpangku tangan saja diam tanpa bekerja atau melakukan aktifitas yang bisa mendatangkan penghasilan, ia hanya pasif menunggu datangnya rejeki, apakah rejeki akan datang sendiri kepadanya?. Banyak orang yang menilai bahwa rejeki bisa datang sendiri tanpa harus bekerja atau mencarinya karena sudah ada yang mengatur-Nya. Namun dalam kenyataannya orang yang mempunyai penilaian seperti itu tetap saja pada akhirnya akan pergi manakala rejeki itu tidak datang menghampirinya. Karena kebutuhan yang mendesak, orang-orang tersebut pada akhirnya akan keluar rumah mencari rejeki dalam berbagai bentuk atau cara yang dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa walaupun rejeki sudah ada yang mengatur namun untuk mencari rejeki yang lebih besar seseorang perlu mencarinya, perlu mengusahakannya.
Dalam upaya mencari rejeki atau mengupayakan rejeki, seseorang dapat merencanakan rejeki yang ingin ia peroleh. Walaupun ia yakin bahwa rejeki sudah diatur, namun harus tetap aktif merencanakan rejeki. Misalnya seseorang yang mengambil motor, mobil atau perumahan secara kredit, ia harus membayar cicilan setiap bulannya, padahal dia seorang pebisnis yang pendapatannya tidak linier atau tidak tetap bisa besar untuk setiap bulannya bisa juga kecil kalau bisnisnya sedang sepia tau ada tunggakan dari rekan bisnis dan lain sebagainya.
Keberanian seseorang mengambil resiko seperti mengambil mobil secara kredit yang harus dibayar setiap bulannya dengan jumlah yang tetap setiap bulannya, padahal penghasilannya tidak tetap merupakan sebuah bentuk dari merencanakan rejekinya, dalam arti ia sedang merencanakan rejeki yang akan datang kepadanya setiap bulannya yang bisa menutupi kebutuhannya plus menutupi cicilan mobil misalnya. Kenyataannya banyak orang berhasil dalam perencanaan rejeki tersebut, sampai cicilan mobilnya terbayar lunas walaupun penghasilannya tidak tetap.
Ketika seseorang merencanakan rejekinya dan ia berani mengambil resiko, maka banyak orang telah membuktikan bahwa besarnya rejeki yang datang akan sesuai dengan besarnya resiko yang diambil, semakin besar resiko yang diambil maka rejeki yang datang pun besar, dan bila resiko yang diambilnya kecil maka rejeki yang datang pun kecil. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa rejeki seseorang mengikuti rencana orang tersebut, rejeki mencari tempat yang pas, ketika tempatnya besar maka rejeki yang dating pun besar demikian sebaliknya. Dan resiko yang diambil oleh orang yang menyediakan tempat yang besar untuk datangnya rejeki pun besar pula seperti upaya dalam mencari rejeki dalam bentuk aktivitas bisnis, profesi atau bekerja, harus lebih keras, lebih kompeten, dan lebih aktif dalam mencari dan menjaring konsumen agar pendapatannya besar.
Apabila seseorang tidak aktif mencari rejeki, ia hanya berpangku tangan saja diam tanpa bekerja atau melakukan aktifitas yang bisa mendatangkan penghasilan, ia hanya pasif menunggu datangnya rejeki, apakah rejeki akan datang sendiri kepadanya?. Banyak orang yang menilai bahwa rejeki bisa datang sendiri tanpa harus bekerja atau mencarinya karena sudah ada yang mengatur-Nya. Namun dalam kenyataannya orang yang mempunyai penilaian seperti itu tetap saja pada akhirnya akan pergi manakala rejeki itu tidak datang menghampirinya. Karena kebutuhan yang mendesak, orang-orang tersebut pada akhirnya akan keluar rumah mencari rejeki dalam berbagai bentuk atau cara yang dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa walaupun rejeki sudah ada yang mengatur namun untuk mencari rejeki yang lebih besar seseorang perlu mencarinya, perlu mengusahakannya.
Dalam upaya mencari rejeki atau mengupayakan rejeki, seseorang dapat merencanakan rejeki yang ingin ia peroleh. Walaupun ia yakin bahwa rejeki sudah diatur, namun harus tetap aktif merencanakan rejeki. Misalnya seseorang yang mengambil motor, mobil atau perumahan secara kredit, ia harus membayar cicilan setiap bulannya, padahal dia seorang pebisnis yang pendapatannya tidak linier atau tidak tetap bisa besar untuk setiap bulannya bisa juga kecil kalau bisnisnya sedang sepia tau ada tunggakan dari rekan bisnis dan lain sebagainya.
Keberanian seseorang mengambil resiko seperti mengambil mobil secara kredit yang harus dibayar setiap bulannya dengan jumlah yang tetap setiap bulannya, padahal penghasilannya tidak tetap merupakan sebuah bentuk dari merencanakan rejekinya, dalam arti ia sedang merencanakan rejeki yang akan datang kepadanya setiap bulannya yang bisa menutupi kebutuhannya plus menutupi cicilan mobil misalnya. Kenyataannya banyak orang berhasil dalam perencanaan rejeki tersebut, sampai cicilan mobilnya terbayar lunas walaupun penghasilannya tidak tetap.
Ketika seseorang merencanakan rejekinya dan ia berani mengambil resiko, maka banyak orang telah membuktikan bahwa besarnya rejeki yang datang akan sesuai dengan besarnya resiko yang diambil, semakin besar resiko yang diambil maka rejeki yang datang pun besar, dan bila resiko yang diambilnya kecil maka rejeki yang datang pun kecil. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa rejeki seseorang mengikuti rencana orang tersebut, rejeki mencari tempat yang pas, ketika tempatnya besar maka rejeki yang dating pun besar demikian sebaliknya. Dan resiko yang diambil oleh orang yang menyediakan tempat yang besar untuk datangnya rejeki pun besar pula seperti upaya dalam mencari rejeki dalam bentuk aktivitas bisnis, profesi atau bekerja, harus lebih keras, lebih kompeten, dan lebih aktif dalam mencari dan menjaring konsumen agar pendapatannya besar.
Cara Untuk Merencanakan Rejeki
4/
5
Oleh
Unknown